Ekspedisi Ciletuh 2015 dan 2017

 Geopark Nasional Ciletuh (warisan geologi, geo-edukasi, penelitian geologi, mega amfiteater).

Arti Ciletuh berasal dari Bahasa Sunda “Ci” sungai, Leuteuk dan Kiruh yang berarti air sungai yang berlumpur. Ciletuh sudah memperoleh sertifikat resmi sebagai geopark nasional dari Komite Nasional untuk UNESCP dan kementrian ESDM berdasarkan usulan Geopark Ciletuh pada 11 Nov 2015 tepatnya 27 Desember 2015, merupakan kawasan berbasis konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat yang berpilar pada keragaman geologi, hayati dan budaya Daerah Ciletuh Kec. Ciemas Kab. Sukabumi Jawa Barat memiliki keragaman geologi yang unik dan merupakan tempat tersingkapnya batuan tertua di Jawa dan (hasil tumbukan Lempeng Benua dan Lempeng Samudra 50-60 juta tahun lalu pada zaman kapur)  menyerupai tapal kuda dan menghadap ke Samudera Hindia. Memiliki bentang plato berbentuk tapal kuda (amfiteater) yang terbuka ke arah teluk Ciletuh. Amfiteater memiliki dimensi hampir 15 x 9 km 2 dan diyakini sebagai bentukan amfiteater alami terbesar di Indonesia Terdapat kumpulan batuan melans (melange),  terdapat batu kontak yang berumur 150 juta tahun .

       

      Titik Pandang Puncak Darma ( Dok. Ary  Widi , Juli 2015)                                   amfiteater di teluk Ciletuh (Dok. Ary Widi, Juli 2015)                                                               

Landscape of Puncak Darma dapat menyasikan matahari (Dok. Ary Widi. 2015)

Menaiki Puncak Darma dari Penginapan jalan kali dari Pk 04.30 dengan di pandu seekor anjing , kami beri nama Bruno tinggal di  pengindapan. Pengelola idenya sangat luar biasa menjadikan tempat berselfie bak perahu Titanik di atas bukit.

       

 

Berselfie bak nahkoda dan romatis di atas kapal Titanik (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

 

         

Selfie dengan Jetsky di atas Puncak Darma (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

 

 

   

Megalitikum di Puncak Darma (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

 

Selain di lihat dari Puncak Darma ada Titik pandang dari Pamoyanan , Landscape of Cikalapa : pemandangan dari Cikiar, titik padang dari Girimukti. Titik pandang dari Mekarsakti, Point of Panenjoan

 Geopark Ciletuh  memiliki:

1)         Keragaman geologi (air terjun, bentang alam, pulau kecil, batuan unik, gua laut, batuan langka/fosil), pantai, geyser)

Keragamanan geologi (geodiversity) bebatuan  unik/estetik (batuan Alien, batu badak, batu batik, batu buaya, batu singalaut, batu komodo, batu banteng, batu rhinos, buaya batu, batu punggung  naga, sekolah batu, batu singalaut, batu menang,  batu punggung naga, batu banteng, batu nunggul, batu pagar, batu kerbau, batu kodok, batu kura-kura. Nama diambil dari unsur nama hewan karena  unsur kemiripan dengan struktur bentuk rupa bebatuannya               

(Dok. Ary Widi , 2015)                                                         Pulau Mandra, Pulau Kunti (Dok. Ary Widi, 2015)

Seperti sisik naga menyerupai duri-duri punggung naga dapat diakses 20 menit dari pantai Palangpang dapat mempelajari batu sedimen batu pasir kuarsa yang merupakan bagian dari formasi Ciletuh yang berumur eosen

Batuan berumur 150 juta th lalu (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

Seperti naga yang sedang berjemur di pinggir pantai

     

Batuan sedimen formasi Ciletuh yang sebagian telah terkekarkan karena pengaruh tektonik dengan formasi miring (strike)

(Dok. Ary Widi. Juli 2015)

            

Spot pengamatan terbaik antaralain bebatuan panisan, panenjoaan (point of Panenjoan ) dan Puncak Darma. Kawasan Ciletuh dikelilingi dengan oleh perbukitan hijau yang memiliki air terjun (curug) antara lain Curug Cimarinjung, Curug Awang, Curuk Puncak Manik, Curug Tengah, Curug Ngela, Curug Cikanteh, Curug Sodong, Curug Nyelempel, Curug Dogdog, Curug Cikaret, Curug Luhur, Curug Puncak jeruk.  Titik pandang dari Girimukti, Pamoyongan, pannenjoan. Bentang alam dari Cikalapa, Pemandangan dari Cikiara. Ciletuh disebut “pinggiran surga” di Jawa Barat. Dari pantai Malangpang dapat melihat air terjun Curug Cimarinjung.

 

 Curug Cimarinjung  (dok. AryWidi 2015)              Dari Pantai Palangpang dapat melihat air terjun Curug Cimarinjung (Dok. Ary Widi.2015)

          

       Curug Sodong (Dok. Ary Widi, Juli 2015)                                                                      Curug Puncak Manik (Dok. Ary Widi, Juli 2015)         

 

 

          

Curug Awang (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

Curug Awang, karena tinggi seolah-olah air jatuh dari awan-awan (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

 

         

Curug Tengah (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

Letaknya lebih rendah dari Curug Awang, untuk sampai ke Curug Tengah merupakan pengalaman yang unik dan mistik, kami mengelilingi berkali-kali pemantang sawah tidak ketemu-temu, sampai hampir putus asa. Dengan kesungguhan dan doa kamipun akhirnya bisa mengagumi curug yang sensansional. Ketika kami menuruni medan kami dijumpakan oleh seorang Bapak dan akhirnya menolong kami menuruni dengan melewati akar pohon. Kamipun menikmati bau karemel yang enak di tempat ajaib ini. Kami sangat bersyukur. Petualangan sekeluarga yang menarik.

         

Gambar medan akses menuju curug Tengah (sumber dok. Ary 2015)

 

 

Sungai-sungai  di Ciletuh, diteliti ada 7 macam ikan khas Ciletuh

Distinasi Pantai

Menikmati pantai dapat berkeliling dengan perahu 8 orang ( sewa @rp. 400.000-500000) mendarat di Pulau Kunti, Pulau Mandra , Karang Daeu, Pulau Manuk dan Pulau Badak. Pulau mandar dengan luas 1 km 2 terletal di desa Mandrajaya, akses menuju pulau 5 menit dari muara sungai ciletuh. Pulau tempat penduduk lokal mancing. Mengingat belum di kelola dengan baik harga masih bergantung negosiasi dengan warga lokal baik transportasi dan penginapan. Penginapan Rp. 100.000- 200.000 per malam kapasitas 4-6 orang, atau bertenda di pinggir pantai. Sewa mobil 300.000-700.000 sehari bergantung kesepakatan dengan pemilik mobil, sewa motor  60.000 pp.

     

Ciletuh memiliku Gua laut (gua laut Sodong Parat, gua laut Kunti), Batuan langka dan fosil. Pantai Batununggul, Pantai Cibulakan, pantai Cikadal, pantai Cikalapa, pantai Cikepuh, pantai Cititerm, pantai Legonpandan, pantai Ombak Tujuh, pantai Palampang, pantai Sodong Parat

Pulau Kunti berada di ujung barat desa Mandrajaya ditempuh 10 menit dari muara sungai Ciletuh, terdapat Gua Kunti dengan ketinggian 3 meter dan 4 panjang memiliki struktur batuan campur aduk yang merupakan campuran batuan kerak benua dan samudera yang diendapkan dalam sebuah palung yang sangat dalam dan karena proses geologi terangkatlah sampai permukaan nampak seperti sekarang

Di dalam gua banyak dijumpai batuan bancuh yang unik-unik (Dok. Ary Widi, 2015)

Gua laut Sodong parat terletak di tanjung tidak jauh dari pantai Cikepuh. Gua ini menumbus sisi lain dari tebing dengan panjang gua mencapai 7 meter. Pada saat pasang gua di lalui dengan kanu, tetapi pada saat surut gua dapat dilalui dengan berjalan kaki. Batuannya ofiolit yang terdiri dari atas gabro dan amfibolit bertekstur sangat kasar. Di Pantai Palampang kadang bisa menyasikkan ikan lumba-lumba, kita bisa melihat batuan batik.

Ketika kami akan merapat ke pantai di Pulau Kunti, tiba-tiba ombak besar , gerimis. Namun berkat pemandu prahu dengan tekun mencarikan tempat pendaratan yang lebih aman, akhirnya kami mendarat dan menyusuri pulau, melihat bebatuan yang tua (150 juta tahun lalu), biota laut, dan masuk gua, di atas ada sarang burung walet. Begitu mempesona bebatuan yang ada warna-warni, dan rumput laut masih banyak menempel di bebatuan, beragam molusca( ice cone shell, calm shell, dsb). Rasanya kami tidak ingin ekspedisi kami terhenti, namun cuaca harus kami pertimbangkan. 

Hasil yang kami peroleh di geoarea Ciletuh terdapat batuan langka dari fosil sebagai bagian dari situs geologi. Batuan langka tersebut berupa batu batuan ofiolit dan batuan metamorf yang berumur lebih dari 60 juta tahun serta batuan bancuh (malange) dan fosil numulites yang berumur eosen. Batu ofiolit berasal dari kerak samudara yang terdiri dari peridotif, gabro berlapisan dike gabro, plagiogranit. Lava basalt berstruktur bantal dan bagian atas ditutup dengan endapan sendimen laut dalam berupa rinjang atau chert. Sedangkan batu metamorf adalah batuan yang dihasilkan karena adanya proses tumbukan antara kerak benua dan kerak samudara karena tekanan dan temperatur yang tinggi, batuannya terdiri atas skis mika, skis hijau, amfibolit, dan serpentinit serta batuan sedimen terdiri atas batupasir kuarsa di bagian atas serta batuan bancuh di bagian bawah. Batuan sedimen ini kemudian dikenal sebagai formasi ciletuh. Lokasi yang ideal untuk melihat berbagai jenis batuan langka adalah di kawasan gunung badak hingga pesisir selatan Pulau Kunti, kompleks batu naga di dekat pantai Batununggul, Sodong Parat di dekat pantai Cikepuh serta kawasan gunung Beas , Tegal Pamindang, Tegal Sabuk, Keusik luhur, sungai Cikepuh, sungai Cikopo, dan Citrea. Di kawasan gunung Badak dapat dijumpa batuan peridotit, gabro, serpentinit, lava bantal, malange, dan fosil nummullites. Sedangkan di kompleks batu naga dapat dijumpai lokasi tipe batuan sedimen formasi Ciletuh yang sebagian telah terkekarkan karena pengaruh tektonik, kekar-kekarnya kemudian diisi oleh kuarsa dan karbonat membentuk pola tertentu dan kemudian mengalami poses oksidasi sehingga berwarna kuning kecoklatan hingga merah tua sehingga menghasilkan pola yang indah. Batuan di kompleks ini oleh penduduk di kenal dengan. Kawasan gunung beas, merupakan tempat yang paling ideal untuk melihat dan mempelajari batuan peridotit yang berasal dari lapiran paling atas mantel bumi, tempat ini juga memeliki bentuk bukit morfologi yang khas dimana hanya tumbuhan berupa rerumputan yang hidup di atasnya karena lapisan tanah sangat tipis dan kaya akan unsur ferro (fe) dan magnesium (Mg) sementara  daerah sungai Sodang  Parat dan Cikepuh merupakan singkapan terbaik untuk mempelajari batuan kerak samudra gabro, plaiogranit dan batuan metamofik amfibolit dan serpentin yang terjadi karena tumbukan.

      

Bebatuan berwarna kuning kecoklatan hingga merah tua karena proses oksidasi, skis mika, skis hijau, amfibolit, batuan peridotit, gabro, serpentinit, lava bantal, malange (bancuh), dan fosil nummullites (Dok. Ary Widi, 2015)

  

Batu Konglomerat (Dok. Ary Widi , juli 2015)                                      Penduduk menyebut batu batik (dok. Ary Widi. Juli 2015)

 

 

Skis mika, skis hijau, amfibolit, dan serpentinit serta batuan sedimen terdiri atas batupasir kuarsa di bagian atas serta batuan bancuh (dok. Ary Widi. Juli 2015).

         

Lava basalt berstruktur bantal dan bagian atas ditutup dengan endapan sendimen laut dalam berupa rinjang atau chert

(Dok. Ary Widi. Juli 201)

 

        

 

Penduduk menyebut Batu Sisik Naga)

 

                      

         


Batuan kerak samudra gabro, plaiogranit dan batuan metamofik amfibolit dan serpentin yang terjadi karena tumbukan(Dok. Ary Widi, Juli 2015)

 

Batu yang dilobangi untuk penelitian umur batu.  

(Dok. Ary Widi. Juli 2015)

 


 

  

Pantai Cikadal, Pantai Cipalapa, Pantai  Cikepuh, Pantai Citir, Pantai Legonpandan, Pantai Membantu

 

      


Pohon yang sangat kokok dari proses abrasi

(Dok. Ary. Widi, juli 2015)

Nelayan , kadang menjumpai lumba-lumba

(Dok. Ary Widi, 2015)


Dari Pantai Palangpang dapat melihat air terjun Curug Cimarinjung(Dok. Ary. Widi, juli 2015)

    

Pemandangan  Pagi hari di depan penginapan,  Pantai Palangpang ((Dok. Ary. Widi, juli 2015)

Matahari terbenam di TPI Ciwaru, Ciletuh (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

 

Pantai Palangpang, dapat menyasikan matahari terbenam, dan masyarakat mengisi waktu jelang senja dengan aktifitas yang beragam (berkuda, pacu motor, mandi, sepak bola pantai, dll), Dok. Ary Widi, 2015)

Penelitian di celetuh petrogenesis kompleksofiolit, mekanisme pembentukan amfiteater, rekonstruksi model formasi malange, paleo tsunami, kebencanaan geologi, hidrologi dan lingkungan pembentukan secara lokal formasi cileruh serte penentun umur terhadap jenis batuan.

2)         Keragamanan hayati (biodiverity)

Tanaman  di Jurug.Tengah           Tanaman  malaka dan Io di jumpai perjalan menuju  Puncak Darma     Tanaman di Pantai Palangpang

(Dok. Ary Widi, Juli 2015)

 

Beberapa molusca , saya sempat mengidentifikasi dengan penamaan sesuai pengetahuan fosil  (Dok. Ary Widi, 2015)

     

Rumput laut menempel di bebatuan basalt stone (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

   

3. Ciletuh Keragaman cultur (cultural diversity)

    

Wilayah Ciletuh sangatlah subur, dan penduduk sebagian menternakan sapi di biarkan bebas merumput dari pagi sampai pagi lagi. Oleh karena itu kesimpulan pengamatan tentang keamanan di wilayah tersebut baik. Bahkan secara perekonomi rumah-rumah yang kami jumpai sangatlah baik, bahkan di jumpai rumah mode hijab, tidak sulit mencari bahan bakar banyak POM Mini. Demikian juga motor-motor penduduk cukup bagus dan bermerk. Penduduknya terbilang cakep dan cantik.

Lokasi pelelangan ikan Ciwaru di sore hari, cukup menarik bisa menyasikan matahari terbenam.

 

Petualang jelang lebaran tahun 2015. Terimakasih atas Anugerah menikmati Tanah Negri Indonesiaku, kami akan sambung di petualang yang lebih seru. Kiranya bisa menginspirasi, bahwa berwisata yang edukatif tidak terlalu sulit.

Geopark Nasional Ciletuh (warisan geologi, geo-edukasi, penelitian geologi, mega amfiteater).

Arti Ciletuh berasal dari Bahasa Sunda “Ci” sungai, Leuteuk dan Kiruh yang berarti air sungai yang berlumpur. Ciletuh sudah memperoleh sertifikat resmi sebagai geopark nasional dari Komite Nasional untuk UNESCP dan kementrian ESDM berdasarkan usulan Geopark Ciletuh pada 11 Nov 2015 tepatnya 27 Desember 2015, merupakan kawasan berbasis konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat yang berpilar pada keragaman geologi, hayati dan budaya Daerah Ciletuh Kec. Ciemas Kab. Sukabumi Jawa Barat memiliki keragaman geologi yang unik dan merupakan tempat tersingkapnya batuan tertua di Jawa dan (hasil tumbukan Lempeng Benua dan Lempeng Samudra 50-60 juta tahun lalu pada zaman kapur)  menyerupai tapal kuda dan menghadap ke Samudera Hindia. Memiliki bentang plato berbentuk tapal kuda (amfiteater) yang terbuka ke arah teluk Ciletuh. Amfiteater memiliki dimensi hampir 15 x 9 km 2 dan diyakini sebagai bentukan amfiteater alami terbesar di Indonesia Terdapat kumpulan batuan melans (melange),  terdapat batu kontak yang berumur 150 juta tahun .

       

      Titik Pandang Puncak Darma ( Dok. Ary  Widi , Juli 2015)                                   amfiteater di teluk Ciletuh (Dok. Ary Widi, Juli 2015)                                                               

Landscape of Puncak Darma dapat menyasikan matahari (Dok. Ary Widi. 2015)

Menaiki Puncak Darma dari Penginapan jalan kali dari Pk 04.30 dengan di pandu seekor anjing , kami beri nama Bruno tinggal di  pengindapan. Pengelola idenya sangat luar biasa menjadikan tempat berselfie bak perahu Titanik di atas bukit.

       

 

Berselfie bak nahkoda dan romatis di atas kapal Titanik (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

 

         

Selfie dengan Jetsky di atas Puncak Darma (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

 

 

   

Megalitikum di Puncak Darma (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

 

Selain di lihat dari Puncak Darma ada Titik pandang dari Pamoyanan , Landscape of Cikalapa : pemandangan dari Cikiar, titik padang dari Girimukti. Titik pandang dari Mekarsakti, Point of Panenjoan

 Geopark Ciletuh  memiliki:

1)         Keragaman geologi (air terjun, bentang alam, pulau kecil, batuan unik, gua laut, batuan langka/fosil), pantai, geyser)

Keragamanan geologi (geodiversity) bebatuan  unik/estetik (batuan Alien, batu badak, batu batik, batu buaya, batu singalaut, batu komodo, batu banteng, batu rhinos, buaya batu, batu punggung  naga, sekolah batu, batu singalaut, batu menang,  batu punggung naga, batu banteng, batu nunggul, batu pagar, batu kerbau, batu kodok, batu kura-kura. Nama diambil dari unsur nama hewan karena  unsur kemiripan dengan struktur bentuk rupa bebatuannya               

(Dok. Ary Widi , 2015)                                                         Pulau Mandra, Pulau Kunti (Dok. Ary Widi, 2015)

Seperti sisik naga menyerupai duri-duri punggung naga dapat diakses 20 menit dari pantai Palangpang dapat mempelajari batu sedimen batu pasir kuarsa yang merupakan bagian dari formasi Ciletuh yang berumur eosen

Batuan berumur 150 juta th lalu (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

Seperti naga yang sedang berjemur di pinggir pantai

     

Batuan sedimen formasi Ciletuh yang sebagian telah terkekarkan karena pengaruh tektonik dengan formasi miring (strike)

(Dok. Ary Widi. Juli 2015)

            

Spot pengamatan terbaik antaralain bebatuan panisan, panenjoaan (point of Panenjoan ) dan Puncak Darma. Kawasan Ciletuh dikelilingi dengan oleh perbukitan hijau yang memiliki air terjun (curug) antara lain Curug Cimarinjung, Curug Awang, Curuk Puncak Manik, Curug Tengah, Curug Ngela, Curug Cikanteh, Curug Sodong, Curug Nyelempel, Curug Dogdog, Curug Cikaret, Curug Luhur, Curug Puncak jeruk.  Titik pandang dari Girimukti, Pamoyongan, pannenjoan. Bentang alam dari Cikalapa, Pemandangan dari Cikiara. Ciletuh disebut “pinggiran surga” di Jawa Barat. Dari pantai Malangpang dapat melihat air terjun Curug Cimarinjung.

 

 Curug Cimarinjung  (dok. AryWidi 2015)              Dari Pantai Palangpang dapat melihat air terjun Curug Cimarinjung (Dok. Ary Widi.2015)

          

       Curug Sodong (Dok. Ary Widi, Juli 2015)                                                                      Curug Puncak Manik (Dok. Ary Widi, Juli 2015)         

 

 

          

Curug Awang (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

Curug Awang, karena tinggi seolah-olah air jatuh dari awan-awan (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

 

         

Curug Tengah (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

Letaknya lebih rendah dari Curug Awang, untuk sampai ke Curug Tengah merupakan pengalaman yang unik dan mistik, kami mengelilingi berkali-kali pemantang sawah tidak ketemu-temu, sampai hampir putus asa. Dengan kesungguhan dan doa kamipun akhirnya bisa mengagumi curug yang sensansional. Ketika kami menuruni medan kami dijumpakan oleh seorang Bapak dan akhirnya menolong kami menuruni dengan melewati akar pohon. Kamipun menikmati bau karemel yang enak di tempat ajaib ini. Kami sangat bersyukur. Petualangan sekeluarga yang menarik.

         

Gambar medan akses menuju curug Tengah (sumber dok. Ary 2015)

 

 

Sungai-sungai  di Ciletuh, diteliti ada 7 macam ikan khas Ciletuh

Distinasi Pantai

Menikmati pantai dapat berkeliling dengan perahu 8 orang ( sewa @rp. 400.000-500000) mendarat di Pulau Kunti, Pulau Mandra , Karang Daeu, Pulau Manuk dan Pulau Badak. Pulau mandar dengan luas 1 km 2 terletal di desa Mandrajaya, akses menuju pulau 5 menit dari muara sungai ciletuh. Pulau tempat penduduk lokal mancing. Mengingat belum di kelola dengan baik harga masih bergantung negosiasi dengan warga lokal baik transportasi dan penginapan. Penginapan Rp. 100.000- 200.000 per malam kapasitas 4-6 orang, atau bertenda di pinggir pantai. Sewa mobil 300.000-700.000 sehari bergantung kesepakatan dengan pemilik mobil, sewa motor  60.000 pp.

     

Ciletuh memiliku Gua laut (gua laut Sodong Parat, gua laut Kunti), Batuan langka dan fosil. Pantai Batununggul, Pantai Cibulakan, pantai Cikadal, pantai Cikalapa, pantai Cikepuh, pantai Cititerm, pantai Legonpandan, pantai Ombak Tujuh, pantai Palampang, pantai Sodong Parat

Pulau Kunti berada di ujung barat desa Mandrajaya ditempuh 10 menit dari muara sungai Ciletuh, terdapat Gua Kunti dengan ketinggian 3 meter dan 4 panjang memiliki struktur batuan campur aduk yang merupakan campuran batuan kerak benua dan samudera yang diendapkan dalam sebuah palung yang sangat dalam dan karena proses geologi terangkatlah sampai permukaan nampak seperti sekarang

Di dalam gua banyak dijumpai batuan bancuh yang unik-unik (Dok. Ary Widi, 2015)

Gua laut Sodong parat terletak di tanjung tidak jauh dari pantai Cikepuh. Gua ini menumbus sisi lain dari tebing dengan panjang gua mencapai 7 meter. Pada saat pasang gua di lalui dengan kanu, tetapi pada saat surut gua dapat dilalui dengan berjalan kaki. Batuannya ofiolit yang terdiri dari atas gabro dan amfibolit bertekstur sangat kasar. Di Pantai Palampang kadang bisa menyasikkan ikan lumba-lumba, kita bisa melihat batuan batik.

Ketika kami akan merapat ke pantai di Pulau Kunti, tiba-tiba ombak besar , gerimis. Namun berkat pemandu prahu dengan tekun mencarikan tempat pendaratan yang lebih aman, akhirnya kami mendarat dan menyusuri pulau, melihat bebatuan yang tua (150 juta tahun lalu), biota laut, dan masuk gua, di atas ada sarang burung walet. Begitu mempesona bebatuan yang ada warna-warni, dan rumput laut masih banyak menempel di bebatuan, beragam molusca( ice cone shell, calm shell, dsb). Rasanya kami tidak ingin ekspedisi kami terhenti, namun cuaca harus kami pertimbangkan. 

Hasil yang kami peroleh di geoarea Ciletuh terdapat batuan langka dari fosil sebagai bagian dari situs geologi. Batuan langka tersebut berupa batu batuan ofiolit dan batuan metamorf yang berumur lebih dari 60 juta tahun serta batuan bancuh (malange) dan fosil numulites yang berumur eosen. Batu ofiolit berasal dari kerak samudara yang terdiri dari peridotif, gabro berlapisan dike gabro, plagiogranit. Lava basalt berstruktur bantal dan bagian atas ditutup dengan endapan sendimen laut dalam berupa rinjang atau chert. Sedangkan batu metamorf adalah batuan yang dihasilkan karena adanya proses tumbukan antara kerak benua dan kerak samudara karena tekanan dan temperatur yang tinggi, batuannya terdiri atas skis mika, skis hijau, amfibolit, dan serpentinit serta batuan sedimen terdiri atas batupasir kuarsa di bagian atas serta batuan bancuh di bagian bawah. Batuan sedimen ini kemudian dikenal sebagai formasi ciletuh. Lokasi yang ideal untuk melihat berbagai jenis batuan langka adalah di kawasan gunung badak hingga pesisir selatan Pulau Kunti, kompleks batu naga di dekat pantai Batununggul, Sodong Parat di dekat pantai Cikepuh serta kawasan gunung Beas , Tegal Pamindang, Tegal Sabuk, Keusik luhur, sungai Cikepuh, sungai Cikopo, dan Citrea. Di kawasan gunung Badak dapat dijumpa batuan peridotit, gabro, serpentinit, lava bantal, malange, dan fosil nummullites. Sedangkan di kompleks batu naga dapat dijumpai lokasi tipe batuan sedimen formasi Ciletuh yang sebagian telah terkekarkan karena pengaruh tektonik, kekar-kekarnya kemudian diisi oleh kuarsa dan karbonat membentuk pola tertentu dan kemudian mengalami poses oksidasi sehingga berwarna kuning kecoklatan hingga merah tua sehingga menghasilkan pola yang indah. Batuan di kompleks ini oleh penduduk di kenal dengan. Kawasan gunung beas, merupakan tempat yang paling ideal untuk melihat dan mempelajari batuan peridotit yang berasal dari lapiran paling atas mantel bumi, tempat ini juga memeliki bentuk bukit morfologi yang khas dimana hanya tumbuhan berupa rerumputan yang hidup di atasnya karena lapisan tanah sangat tipis dan kaya akan unsur ferro (fe) dan magnesium (Mg) sementara  daerah sungai Sodang  Parat dan Cikepuh merupakan singkapan terbaik untuk mempelajari batuan kerak samudra gabro, plaiogranit dan batuan metamofik amfibolit dan serpentin yang terjadi karena tumbukan.

      

Bebatuan berwarna kuning kecoklatan hingga merah tua karena proses oksidasi, skis mika, skis hijau, amfibolit, batuan peridotit, gabro, serpentinit, lava bantal, malange (bancuh), dan fosil nummullites (Dok. Ary Widi, 2015)

  

Batu Konglomerat (Dok. Ary Widi , juli 2015)                                      Penduduk menyebut batu batik (dok. Ary Widi. Juli 2015)

 

 

Skis mika, skis hijau, amfibolit, dan serpentinit serta batuan sedimen terdiri atas batupasir kuarsa di bagian atas serta batuan bancuh (dok. Ary Widi. Juli 2015).

         

Lava basalt berstruktur bantal dan bagian atas ditutup dengan endapan sendimen laut dalam berupa rinjang atau chert

(Dok. Ary Widi. Juli 201)

 

        

 

Penduduk menyebut Batu Sisik Naga)

 

                      

         


Batuan kerak samudra gabro, plaiogranit dan batuan metamofik amfibolit dan serpentin yang terjadi karena tumbukan(Dok. Ary Widi, Juli 2015)

 

Batu yang dilobangi untuk penelitian umur batu.  

(Dok. Ary Widi. Juli 2015)

 


 

  

Pantai Cikadal, Pantai Cipalapa, Pantai  Cikepuh, Pantai Citir, Pantai Legonpandan, Pantai Membantu

 

      


Pohon yang sangat kokok dari proses abrasi

(Dok. Ary. Widi, juli 2015)

Nelayan , kadang menjumpai lumba-lumba

(Dok. Ary Widi, 2015)


Dari Pantai Palangpang dapat melihat air terjun Curug Cimarinjung(Dok. Ary. Widi, juli 2015)

    

Pemandangan  Pagi hari di depan penginapan,  Pantai Palangpang ((Dok. Ary. Widi, juli 2015)

Matahari terbenam di TPI Ciwaru, Ciletuh (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

 

Pantai Palangpang, dapat menyasikan matahari terbenam, dan masyarakat mengisi waktu jelang senja dengan aktifitas yang beragam (berkuda, pacu motor, mandi, sepak bola pantai, dll), Dok. Ary Widi, 2015)

Penelitian di celetuh petrogenesis kompleksofiolit, mekanisme pembentukan amfiteater, rekonstruksi model formasi malange, paleo tsunami, kebencanaan geologi, hidrologi dan lingkungan pembentukan secara lokal formasi cileruh serte penentun umur terhadap jenis batuan.

2)         Keragamanan hayati (biodiverity)

Tanaman  di Jurug.Tengah           Tanaman  malaka dan Io di jumpai perjalan menuju  Puncak Darma     Tanaman di Pantai Palangpang

(Dok. Ary Widi, Juli 2015)

 

Beberapa molusca , saya sempat mengidentifikasi dengan penamaan sesuai pengetahuan fosil  (Dok. Ary Widi, 2015)

     

Rumput laut menempel di bebatuan basalt stone (Dok. Ary Widi, Juli 2015)

   

3. Ciletuh Keragaman cultur (cultural diversity)

    

Wilayah Ciletuh sangatlah subur, dan penduduk sebagian menternakan sapi di biarkan bebas merumput dari pagi sampai pagi lagi. Oleh karena itu kesimpulan pengamatan tentang keamanan di wilayah tersebut baik. Bahkan secara perekonomi rumah-rumah yang kami jumpai sangatlah baik, bahkan di jumpai rumah mode hijab, tidak sulit mencari bahan bakar banyak POM Mini. Demikian juga motor-motor penduduk cukup bagus dan bermerk. Penduduknya terbilang cakep dan cantik.

Lokasi pelelangan ikan Ciwaru di sore hari, cukup menarik bisa menyasikan matahari terbenam.

 

Petualang jelang lebaran tahun 2015. Terimakasih atas Anugerah menikmati Tanah Negri Indonesiaku, kami akan sambung di petualang yang lebih seru. Kiranya bisa menginspirasi, bahwa berwisata yang edukatif tidak terlalu sulit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemanfaatan Limbah Kulit Jeruk untuk Mendaur Ulang Styrofoam